Tata Kelola Pariwisata Berbasis Komunitas Lokal di Pantai Holtekam Distrik Muara Tami Kota Jayapura Provinsi Papua

Authors

  • Y Gabriel Maniagasi Universitas Cenderawasih, Indonesia
  • Grace. N. Maniagasi Maniagasi Universitas Cenderawasih, Indonesia
  • Daud Erari Universitas Cenderawasih, Indonesia
  • Leo Somilena Universitas Cenderawasih, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.51577/jgpi.v5i2.896

Keywords:

Pengelolaan, Pariwisata, Komunitas Lokal

Abstract

Tujuan penelitian menganalisis pengelolaan pariwisata berbasis komunitas lokal dan mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat pengelolaan pariwisata berbasis komunitas lokal di pantai Holtekam distrik Muara Tami Kota Jayapura. Metode penelitian yang digunakan Adalah pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling, berdasarkan kriteria relevansi dan keterlibatan dalam aktivitas pariwisata di kawasan pantai Holtekam. Informan kunci, yakni tokoh masyarakat, pengelola obyek wisata, pelaku usaha kecil pariwisata (penjual makanan/minuman), dan aparat kampung. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tahapan, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukan keberhasilan pengelolaan pariwisata berbasis komunitas lokal di pantai Holtekam Kota Jayapura dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat lokal; kepemilikan terhadap aset wisata; penguatan kelembagaan lokal; pengakuan terhadap nilai budaya lokal; distribusi manfaat ekonomi secara adil dan sejalan dengan kearifan lokal dan struktur sosial. Faktor pendukung, yakni adanya inisiatif; adanya kemampuan walau terbatas; bermodalkan semangat dan daya juang; adanya goodwill pemerintah, sedangkan faktor penghambat, yakni rendahnya kapasitas SDM lokal dalam urusan pariwisata; rendahnya kemampuan mengelola dan memasarkan destinasi wisata secara profesional; belum maksimal keberpihakan, perlindungan dan pemberdayaan pemerintah bagi usaha wisata berbasis komunitas lokal; belum ada kelembagaan lokal yang khusus memberi perhatian pada pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas lokal; lemahnya kemampuan membangun jaringan guna pemasaran destinasi wisata yang lebih luas.

References

Ardianto, R., & Setiawan, B. (2022). Pengelolaan pariwisata berbasis komunitas sebagai strategi pembangunan berkelanjutan. Jurnal Pembangunan Daerah, 14(2), 115–130.

Basri, M. (2021). Kepemilikan aset lokal dan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir dalam pengembangan pariwisata. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 19(1), 45–58.

Bramwell, B., & Lane, B. (2011). Critical research on the governance of tourism and sustainability. Journal of Sustainable Tourism, 19(4–5), 411–421. https://doi.org/10.1080/09669582.2010.531503

Chambers, R. (2014). Rural development: Putting the last first. London: Routledge.

Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Fadli, A., & Ridwan, M. (2021). Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pariwisata berbasis komunitas. Jurnal Administrasi Publik, 11(3), 233–247.

Goodwin, H., & Santilli, R. (2009). Community-based tourism: A success? ICRT Occasional Paper No. 11. Leeds: International Centre for Responsible Tourism.

Hampton, M. P., & Jeyacheya, J. (2021). Power, ownership and tourism in small islands: Evidence from Indonesia. World Development, 140, 105261. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2020.105261

Maniagasi, A. (2021). Pengembangan kapasitas kelembagaan lokal dalam pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 10(2), 178–192.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Pretty, J. (1995). Participatory learning for sustainable agriculture. World Development, 23(8), 1247–1263. https://doi.org/10.1016/0305-750X(95)00024-F

Putnam, R. D. (1993). Making democracy work: Civic traditions in modern Italy. Princeton, NJ: Princeton University Press.

Scheyvens, R. (2011). Tourism and poverty. London: Routledge.

Sihite, R., & Panggabean, S. (2023). Kelembagaan komunitas dan keberlanjutan pariwisata lokal. Jurnal Kebijakan Publik, 18(1), 89–104.

Suansri, P. (2003). Community based tourism handbook. Bangkok: Responsible Ecological Social Tours (REST).

Suansri, P. (2020). Community-based tourism and sustainable development. Tourism Planning & Development, 17(4), 456–472. https://doi.org/10.1080/21568316.2020.1745861

Tosun, C. (2006). Expected nature of community participation in tourism development. Tourism Management, 27(3), 493–504. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2005.08.001

United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (UNDRIP). (2007). United Nations.

World Tourism Organization (UNWTO). (2019). International tourism highlights. Madrid: World Tourism Organization.

Wahab, S. (2003). Manajemen kepariwisataan. Jakarta: Pradnya Paramita.

Wenno, I. H. (2017). Motivasi dan inisiatif masyarakat dalam pengembangan usaha berbasis lokal. Jurnal Sosiologi Pedesaan, 5(2), 101–112.

Published

2025-10-25