Pengaruh Konsumsi Minuman Teh Hijau (Camellia Sinensis) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Pasien di Puskesmas Batulappa Kabupaten Pinrang
DOI:
https://doi.org/10.51577/jhqd.v6i1.1045Keywords:
Asam Urat, Teh Hijau, HiperurisemiaAbstract
Asam urat merupakan hasil akhir metabolisme purin yang secara normal terdapat dalam darah, namun peningkatan kadarnya dapat menyebabkan hiperurisemia dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Salah satu upaya nonfarmakologis untuk menurunkan kadar asam urat adalah melalui konsumsi teh hijau yang mengandung senyawa penghambat enzim xantin oksidase, sehingga diduga dapat mengurangi produksi asam urat dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi teh hijau terhadap penurunan kadar asam urat pada pasien di Puskesmas Batulappa. Penelitian menggunakan metode pre-eksperimental dengan rancangan one group pre-test post-test design. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang pernah melakukan pemeriksaan kadar asam urat di Puskesmas Batulappa sejak tahun 2025 sebanyak 28 orang. Sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling sehingga diperoleh 10 responden yang memenuhi kriteria penelitian. Intervensi dilakukan dengan memberikan teh hijau untuk dikonsumsi satu kali sehari selama tujuh hari berturut-turut. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah konsumsi teh hijau, sedangkan variabel terikat adalah kadar asam urat. Analisis data menggunakan uji Paired Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mengalami penurunan kadar asam urat setelah intervensi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konsumsi teh hijau berpengaruh signifikan terhadap penurunan kadar asam urat pada pasien di Puskesmas Batulappa
References
Chen, Y., Zhang, H., Liu, X., & Wang, J. (2022). Green tea polyphenols reduce serum uric acid levels through xanthine oxidase inhibition in hyperuricemia models. Journal of Functional Foods, 89, 104944. https://doi.org/10.1016/j.jff.2022.104944
Du, L., Zong, Y., Li, H., & et al. (2024). Hyperuricemia and its related diseases: mechanisms and advances in therapy. Signal Transduction and Targeted Therapy, 9(1), 212. https://doi.org/10.1038/s41392-024-01294-0
Fang, J., Alderman, M. H., & Choi, H. K. (2021). Dietary factors and serum uric acid levels: A systematic review. Nutrients, 13(5), 1568. https://doi.org/10.3390/nu13051568
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Profil kesehatan Indonesia 2023. Kementerian Kesehatan RI.
Li, K., Wang, Y., Liu, W., & et al. (2024). Structure–activity relationships and changes in the inhibition of xanthine oxidase by polyphenols: A review. Foods, 13(15), 2365. https://doi.org/10.3390/foods13152365
Liu, R., Han, C., Wu, D., & et al. (2022). Prevalence of hyperuricemia and gout in mainland China from 2000 to 2019: A systematic review and meta-analysis. BioMed Research International, 2022, 1–12. https://doi.org/10.1155/2022/1718319
Nugroho, A., & Pramono, D. (2022). Pengaruh konsumsi teh hijau terhadap kadar asam urat pada pasien hiperurisemia. Jurnal Gizi dan Pangan, 17(2), 85–92. https://doi.org/10.25182/jgp.2022.85-92
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. (2022). Pedoman diagnosis dan tata laksana gout dan hiperurisemia. PERI.
Putri, R. A., & Sari, N. (2023). Efektivitas terapi nonfarmakologis pada pasien hiperurisemia: Tinjauan literatur. Jurnal Keperawatan Indonesia, 26(1), 45–53. https://doi.org/10.7454/jni.v26i1.2023
Singh, A., Debnath, R., Chawla, V., & Chawla, P. A. (2024). Heterocyclic compounds as xanthine oxidase inhibitors for the management of hyperuricemia: synthetic strategies, structure–activity relationship and molecular docking studies (2018–2024). RSC Medicinal Chemistry, 15, 1849–1876. https://doi.org/10.1039/D4MD00024A
Ullah, Z., Yue, P., Mao, G., & et al. (2024). A comprehensive review on recent xanthine oxidase inhibitors of dietary based bioactive substances for the treatment of hyperuricemia and gout: Molecular mechanisms and perspective. International Journal of Biological Macromolecules, 278, 134832. https://doi.org/10.1016/j.ijbiomac.2023.134832
Wen, Z.-Y., Wei, Y.-F., Sun, Y.-H., & Ji, W.-P. (2024). Dietary pattern and risk of hyperuricemia: An updated systematic review and meta-analysis of observational studies. Frontiers in Nutrition, 11, 1218912. https://doi.org/10.3389/fnut.2024.1218912
World Health Organization. (2023). Noncommunicable diseases country profiles 2023. WHO.
Yuliana, D., & Rahman, A. (2021). Hubungan pola makan dengan kadar asam urat pada lansia. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 16(3), 210–217. https://doi.org/10.21109/kesehatan.v16i3.452
Zhu, W., Wang, Q., Xu, L., Yang, X., & Lei, Y. (2025). Tea consumption, serum uric acid levels and hyperuricemia: A systematic review and meta-analysis. Clinical Rheumatology, 44(1), 67–80. https://doi.org/10.1007/s10067-024-06123-9
Published
Issue
Section
Copyright (c) 2026 Journal of Health Quality Development (JHQD)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.







